3 Maret 2025.
Hari itu seperti biasa, setelah jam pulang magang tiba, aku pulang sendirian. Tara masih di kampung halamannya, jadi perjalanan kali ini aku sendirian dari pagi tadi. Entah kenapa rasanya agak sepi jika langsung ke kontrakan.
Daripada langsung pulang ke kontrakan, aku memutuskan mampir ke tempat ngopi dulu. Sekalian nunggu maghrib, hehehe. Duduk sendirian, kopi di meja, suasana lumayan tenang… sambil memikirkan hal-hal yang ber-makna, alias main game aja.
Di tengah-tengah waktu aku sedikit bosan, terus kepikiran rencana ajakan ngopi Afi siang tadi, hehehe. Dari situ aku langsung chat Cutina, sekadar nanya dia jadi ikut atau nggak. Tapi aku nggak nanya biasa aja, aku jelasin panjang lebar, ya bisa dibilang sedikit provokasi biar dia mau ikut, intinya basa-basi😊.
Singkat cerita, Cutina akhirnya “menyerah” mungkin karena aku terlalu panjang chatnya hingga sangat basi, dan dia bilang mau ikut ngopi nanti malam. Tapi ada syarat: harus ada yang jemput, karena jarak kosnya jauh.
Tapi ya… entah kenapa aku tetap jemput juga. Yaa....bisa dibilang sangat ingin ketemu dan main sama dia, tapi aku waktu itu nggak benar-benar sadar juga.
Akhirnya sekitar setengah 7 aku berangkat jemput dia. Saat sudah dekat daerah kosnya, aku chat untuk nanya lokasi. Padahal sebenarnya aku sudah tahu kosnya, karena pernah dikasih tahu Afi waktu melayat ke salah satu guru tempat magangku. Ya… biar kelihatan kayak “baru tahu” aja gitu, hehehe.
Singkat cerita, aku sudah ketemu Cutina, lalu kita langsung berangkat ke tempat ngopi.
Di sana kami pesan dan duduk sambil ngobrol dulu karena Afi dan pacarnya belum datang. Obrolannya banyak muter ke Afi dan pacarnya, karena mereka bisa jadian juga gara-gara dicomblangin oleh Cutina, kalo kataku "mak comblang juga dia nih".
Nggak lama kemudian Afi datang bersama pacarnya. Aku kenalan juga dengan pacarnya Afi, lalu kita lanjut ngobrol panjang lebar. Dari cerita awal mereka bisa jadian, sampai keluh kesah di tempat magang.
Di tengah obrolan, Afi dan pacarnya sempat agak debat kecil, ya namanya juga hubungan.
Cutina tiba-tiba nyela, “sudah-sudah aku yang salah”.
Tanpa mikir panjang aku langsung nyeletuk, “sudah kamu sama aku aja, gausah ikut campur hubungan orang,” sambil sedikit ngelus kepalanya, mungkin refleks yak, karena di sana kita cuma berempat.
Saat itu Afi mungkin kaget lihat reaksiku, apalagi dia juga kenal dengan pacarku. Kalau diingat lagi sekarang, jujur itu bukan sikap yang buruk sih, punten🙏.
Singkat cerita, waktu sudah hampir setengah 12. Kami memutuskan pulang.
Di perjalanan, suasananya jadi canggung. Nggak ada yang benar-benar tahu harus ngobrol apa. Sampai akhirnya aku nanya, “kapan kita night ride nya?”
Cutina jawab, “hmmm…. malam minggu enak kayaknya.”

Comments
Post a Comment